Ambon-Kompakmaluku.com-Ketua Jaringan Masyarakat Anti Korupsi Maluku (JAMAK-MALUKU), Baharudin Kelutur, menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap langkah Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku dalam menghadapi ancaman kekeringan dan kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah Maluku.
Kelutur menilai, perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat, khususnya ketersediaan air bersih, perlu menjadi prioritas di tengah kondisi kemarau yang berdampak terhadap sumber-sumber air Senin,05/09/26
Menurutnya, kehadiran Kepala Balai Wilayah Sungai Maluku, Dr. Ir. Ruslan Malik, S.T., M.T., diharapkan dapat memperkuat respons BWS Maluku terhadap persoalan sumber daya air, tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga melalui langkah tanggap darurat dan program berkelanjutan.
“Persoalan air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, kami berharap BWS Maluku terus memperkuat respons terhadap daerah-daerah yang mengalami kekeringan,” ujar Kelutur.
Ia mengatakan, kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Maluku perlu ditangani secara serius melalui koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat.
JAMAK-MALUKU mencatat sedikitnya tiga hal yang perlu terus diperkuat BWS Maluku.
Pertama, penanganan kebutuhan air bersih masyarakat.
Distribusi air bersih melalui mobil tangki maupun penyediaan sumber air alternatif perlu diperluas ke wilayah yang mengalami keterbatasan air. Menurut JAMAK-MALUKU, langkah tersebut penting terutama bagi masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah yang memiliki keterbatasan sumber air baku.
Selain langkah darurat, pembangunan sumur bor di wilayah yang membutuhkan juga perlu menjadi bagian dari solusi jangka menengah. Teknologi pompa tenaga surya dapat dipertimbangkan di daerah yang memiliki keterbatasan akses listrik.
Kedua, penyelamatan embung dan sumber air baku.
JAMAK-MALUKU mendorong BWS Maluku memperkuat pemeliharaan embung, jaringan air baku, serta infrastruktur sumber daya air yang sudah tersedia.
Menurut Kelutur, infrastruktur yang telah dibangun harus dipastikan tetap berfungsi dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Normalisasi, pemeliharaan, dan peningkatan kapasitas tampungan air perlu dilakukan secara terukur berdasarkan kondisi masing-masing daerah.
Ketiga, penguatan mitigasi jangka panjang.
JAMAK-MALUKU juga mendorong program edukasi masyarakat mengenai konservasi air, perlindungan daerah aliran sungai, serta pemanfaatan sumber daya air secara berkelanjutan.
Program pemberdayaan masyarakat seperti komunitas peduli sungai dan edukasi lingkungan dinilai penting agar penanganan kekeringan tidak hanya bersifat reaktif ketika terjadi krisis.
Kelutur menegaskan, persoalan kekeringan di Maluku membutuhkan kerja bersama dan data yang akurat. Karena itu, JAMAK-MALUKU berharap BWS Maluku terus membuka ruang koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat di lapangan.
“Kami berharap kepemimpinan Dr. Ruslan Malik dapat terus memperkuat pelayanan kepada masyarakat. Jangan hanya menunggu persoalan muncul, tetapi lakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan siapkan langkah antisipasi sejak dini,” tegasnya.
JAMAK-MALUKU menitipkan tiga harapan kepada BWS Maluku:
1. Memperluas titik sumur bor di wilayah kepulauan dan daerah yang mengalami keterbatasan air.
2. Memperkuat kanal pengaduan masyarakat terkait kekeringan dan kebutuhan air bersih.
3. Memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan desa untuk menjaga serta merawat embung dan infrastruktur sumber daya air yang telah dibangun.
Kelutur menambahkan, apresiasi tersebut sekaligus menjadi dorongan agar BWS Maluku terus meningkatkan keterbukaan informasi mengenai program, lokasi kegiatan, serta manfaat pembangunan sumber daya air bagi masyarakat.
“Yang paling penting adalah masyarakat merasakan langsung manfaat kehadiran pemerintah melalui pelayanan air bersih dan infrastruktur sumber daya air yang benar-benar berfungsi,” pungkasnya.

















